Biaya merchant adalah potongan yang diambil penyedia layanan setiap kali pelanggan membayar dengan kartu atau QRIS, ditambah biaya sewa alat dan admin bulanan. Angka MDR di brosur belum mencerminkan biaya sebenarnya. Berikut cara menghitung biaya merchant untuk usaha kecil langkah demi langkah, supaya kamu tahu berapa yang benar-benar masuk ke rekening.
Kenali dulu komponen biaya merchant
Tagihan dari penyedia layanan biasanya terdiri dari beberapa pos yang terpisah. Sebelum menghitung, pisahkan dulu mana yang dipotong per transaksi dan mana yang dibayar tetap tiap bulan.
- MDR (merchant discount rate): persentase dari nilai transaksi yang dipotong. Besarnya berbeda untuk kartu debit, kartu kredit, dan QRIS.
- Biaya sewa atau sewa-beli EDC: dibayar bulanan atau di muka di awal kontrak.
- Biaya admin bulanan: sebagian penyedia mengenakan biaya tetap terlepas dari jumlah transaksi.
- Biaya settlement: potongan saat dana dipindahkan ke rekening usahamu, biasanya per pencairan atau per periode.
- Biaya tambahan: misalnya biaya cetak struk, biaya kertas, atau denda jika volume transaksi tidak mencapai target.
Tanyakan rincian ini saat negosiasi. Penyedia yang transparan akan memberi tabel MDR per jenis kartu, bukan satu angka rata-rata.
Langkah 1: Kumpulkan data transaksi satu bulan
Ambil catatan penjualan bulan terakhir yang dibayar lewat kartu dan QRIS. Pisahkan berdasarkan metode bayar, karena tiap jenis punya tarif berbeda. Hitung jumlah transaksi dan total nilai rupiahnya.
Kalau pencatatanmu masih berantakan, rapikan dulu dengan cara mencatat pembayaran merchant agar buku kas rapi. Tanpa data ini, hitungan biaya hanya jadi tebakan.
Misalnya dalam sebulan tercatat 400 transaksi debit senilai Rp60 juta, 120 transaksi kredit senilai Rp30 juta, dan 250 transaksi QRIS senilai Rp15 juta.
Langkah 2: Kalikan nilai transaksi dengan tarif MDR
Gunakan tarif yang tertulis di kontrak. Angka di bawah ini hanya contoh supaya kamu bisa mengikuti alurnya, bukan tarif resmi penyedia tertentu.
| Jenis | Nilai transaksi | Tarif contoh | Potongan |
|---|---|---|---|
| Kartu debit | Rp60.000.000 | 0,7% | Rp420.000 |
| Kartu kredit | Rp30.000.000 | 2,0% | Rp600.000 |
| QRIS | Rp15.000.000 | 0,3% | Rp45.000 |
Total potongan MDR dari contoh ini Rp1.065.000. Dana yang benar-benar cair bukan Rp105 juta, tapi sekitar Rp103.935.000 sebelum biaya tetap.
Langkah 3: Tambahkan biaya tetap bulanan
Biaya sewa alat, admin, dan settlement tidak ikut persentase tadi. Jumlahkan semuanya untuk satu bulan. Contohnya sewa EDC Rp150.000, admin Rp50.000, dan dua kali pencairan dengan biaya Rp5.000 masing-masing, total Rp210.000.
Kalau angkanya sudah ketemu, biaya merchant sebulan menjadi Rp1.065.000 + Rp210.000 = Rp1.275.000. Angka itu yang perlu kamu masukkan ke perhitungan laba.
Biaya tetap terasa ringan saat transaksi ramai, tapi bisa mencekik ketika penjualan sedang sepi. Perhitungkan keduanya.
Langkah 4: Ubah ke persentase terhadap omzet
Angka rupiah sulit dibandingkan antar penyedia. Bagi total biaya dengan total omzet kartu dan QRIS, lalu kalikan seratus. Dari contoh di atas: Rp1.275.000 ÷ Rp105.000.000 × 100 = sekitar 1,21%.
Jika penjualan turun sementara biaya bulanan tetap, persentase efektif akan naik. Ini penting saat kamu menyusun strategi menjaga arus kas usaha kecil saat penjualan naik turun, karena biaya merchant masuk ke pos pengeluaran operasional.
Langkah 5: Bandingkan dengan biaya tunai dan risiko
Pembayaran tunai memang tanpa MDR, namun ada biaya yang sering tidak dihitung: uang kembalian, waktu rekap, risiko uang palsu, dan tenaga mencatat. Bandingkan total biaya merchant dengan perkiraan biaya menangani tunai selama sebulan. Untuk usaha dengan transaksi di atas 300 kali per bulan, biaya merchant biasanya lebih murah daripada waktu yang habis untuk rekap manual.
Langkah 6: Proyeksikan untuk tiga bulan ke depan
Hitung ulang dengan asumsi penjualan naik 10% dan turun 15%. Lihat apakah biaya tetap masih tertutup. Kalau kamu butuh kerangka perhitungan yang lebih lengkap, pakai panduan cara membuat proyeksi keuangan sederhana untuk usaha kecil agar biaya merchant masuk sebagai baris tersendiri.
Beberapa hal yang perlu kamu cek saat membandingkan penawaran:
- Apakah tarif MDR debit dan kredit dipisah di kontrak.
- Apakah ada target volume transaksi minimum per bulan.
- Berapa lama dana masuk ke rekening setelah transaksi.
- Apakah ada biaya pengembalian dana (refund) atau chargeback.
- Apakah sewa alat bisa dihentikan sewaktu-waktu tanpa penalti.
Ringkasan
Hitung MDR per jenis pembayaran dari data transaksi nyata, tambahkan biaya tetap bulanan, lalu ubah ke persentase omzet. Setelah itu bandingkan dengan biaya menangani tunai dan proyeksikan ke beberapa bulan ke depan. Dengan cara ini kamu memilih layanan merchant berdasarkan angka, bukan karena tawaran yang terdengar murah di awal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah MDR bisa dinegosiasi untuk usaha kecil?
Bisa, terutama jika volume transaksimu cukup besar atau kamu memakai lebih dari satu metode pembayaran. Ajukan perbandingan penawaran dari dua sampai tiga penyedia dan minta tarif khusus berdasarkan data transaksi bulananmu.
Kapan sebaiknya usaha kecil beralih ke mesin EDC?
Saat pelanggan sering bertanya apakah bisa bayar dengan kartu, atau saat nilai transaksi rata-rata cukup besar sehingga risiko membawa uang tunai meningkat. Hitung dulu biaya merchant dengan langkah di atas, lalu bandingkan dengan tambahan penjualan yang mungkin muncul.
Apakah biaya merchant termasuk biaya yang bisa dikurangkan dari pajak?
Biaya yang berkaitan langsung dengan kegiatan usaha umumnya diperlakukan sebagai biaya operasional. Aturan rinci dan syarat bukti transaksinya berbeda tergantung status wajib pajak, jadi konsultasikan dengan konsultan pajak atau petugas pajak sebelum mengambil kesimpulan.