Menentukan harga jual sering bikin pemilik usaha kecil maju-mundur. Pasang terlalu murah, untungnya habis buat nutup biaya. Pasang terlalu tinggi, pembeli kabur ke kompetitor. Solusinya bukan menebak, tapi menghitung dari modal, biaya operasional, dan harga pasar di sekitar kamu.
Mulai dari hitungan modal per unit
Sebelum menyentuh angka harga, kamu perlu tahu berapa modal yang keluar untuk satu produk. Kalau kamu jual barang dagangan, ini harga beli dari supplier ditambah ongkos kirim dan biaya lain yang muncul saat barang masuk.
Contohnya kamu beli kaos seharga Rp50.000 per potong dan ongkos kirim Rp5.000 per potong, maka modal per unit sudah Rp55.000. Angka ini belum termasuk biaya yang nanti dibahas di bawah.
Untuk usaha makanan atau produk buatan sendiri, hitung bahan baku per porsi. Timbang atau ukur bahan dengan teliti, lalu bagi total biaya bahan dengan jumlah porsi yang dihasilkan. Kalau satu resep menghasilkan 20 porsi dan total bahannya Rp200.000, modal bahan per porsi sekitar Rp10.000.
Masukkan biaya operasional yang sering terlupa
Banyak usaha kecil salah hitung karena cuma memasukkan harga barang, padahal ada biaya lain yang ikut jalan setiap bulan. Biaya ini tidak menempel langsung ke produk, tapi tetap harus dibayar dari uang penjualan.
- Sewa tempat atau kios
- Listrik, air, dan internet
- Gaji karyawan atau upah bantu
- Biaya kemasan dan perlengkapan
- Biaya merchant atau admin pembayaran non-tunai
- Transportasi dan promosi
Jumlahkan semua biaya operasional per bulan, lalu bagi dengan perkiraan jumlah produk yang terjual. Misalnya biaya operasional bulanan Rp3.000.000 dan kamu yakin bisa menjual 300 produk, berarti beban operasional per produk sekitar Rp10.000. Kalau pembayaran non-tunai makin sering dipakai pelanggan, hitung dulu potongannya lewat panduan cara menghitung biaya merchant untuk usaha kecil supaya tidak kaget di akhir bulan.
Hitung harga jual dari modal ditambah margin
Setelah modal per unit dan beban operasional diketahui, jumlahkan keduanya. Angka ini adalah titik balik modal (BEP) per produk. Menjual di bawah angka ini sama saja kamu nombok.
Dari situ, tentukan margin yang masuk akal. Usaha kecil biasanya mengambil margin 20 sampai 50 persen, tergantung jenis produk dan persaingan. Barang yang perputarannya cepat bisa pakai margin lebih tipis, sementara produk yang jarang terjual butuh margin lebih tebal.
Rumus sederhananya:
Harga jual = modal per unit + beban operasional per unit + margin
Contoh:
Modal per unit = Rp55.000
Beban operasional/unit = Rp10.000
Subtotal = Rp65.000
Margin 30% dari subtotal = Rp19.500
Harga jual = Rp84.500, bulatkan jadi Rp85.000
Bulatkan harga ke angka yang enak dibaca, misalnya Rp85.000 atau Rp84.900. Pembulatan kecil seperti ini tidak mengubah untung secara besar, tapi membuat harga lebih gampang diingat pembeli.
Cek harga pasar dan posisi produkmu
Hitungan modal memberi batas bawah, tapi pasar yang menentukan harga akhirnya masuk akal atau tidak. Lihat harga produk sejenis di sekitar kamu, baik di toko offline maupun di marketplace.
Kalau hitunganmu jauh di atas harga pasar, ada dua kemungkinan: biaya produksimu memang tinggi, atau produkmu punya nilai lebih yang membuat pembeli mau bayar lebih. Kalau hitunganmu jauh di bawah pasar, jangan buru-buru senang. Bisa jadi kamu meninggalkan uang di meja, atau ada biaya yang belum kamu hitung.
Perhatikan juga siapa pembelinya. Produk untuk pelajar dan produk untuk pekerja kantoran punya kepekaan harga yang berbeda, meskipun barangnya mirip.
Pisahkan biaya produk dan biaya kirim
Kesalahan umum usaha kecil yang mulai jualan online adalah menelan biaya kirim ke dalam harga produk. Akibatnya, pembeli di kota jauh tetap bayar harga yang sama dengan pembeli di kota dekat, padahal ongkos kirimnya beda jauh.
Buat harga produk bersih, lalu tambahkan biaya kirim terpisah sesuai alamat tujuan. Cara ini membuat margin produk tetap utuh dan pembeli lebih percaya karena tahu rinciannya.
Untuk yang berjualan lewat toko atau kios, prinsipnya sama: biaya tambahan seperti antar barang atau bungkus kado sebaiknya dihitung terpisah, bukan dilebur ke harga dasar.
Uji harga dan siap merevisi
Harga pertama bukan harga selamanya. Setelah berjalan satu sampai dua bulan, lihat datanya. Apakah produk laris di harga sekarang? Apakah pembeli banyak yang menawar? Apakah stok menumpuk?
Tiga tanda ini cukup untuk memutuskan arah revisi. Kalau laris dan pembeli jarang menawar, harga mungkin bisa dinaikkan sedikit. Kalau banyak yang menawar dan batal beli, cek lagi apakah harga terlalu tinggi atau memang nilai produknya belum terlihat jelas oleh pembeli.
Revisi harga sebaiknya dilakukan bertahap, misalnya naik 5 sampai 10 persen, lalu amati reaksi pasar selama beberapa minggu. Lonjakan harga mendadak membuat pelanggan lama merasa ditarik terlalu dalam.
Saat kamu mulai menaikkan harga dan penjualan ikut naik, arus kas akan berubah. Siapkan catatan yang rapi dengan laporan arus kas sederhana supaya kelihatan apakah kenaikan harga benar-benar menambah untung atau cuma menambah omzet.
Ringkasan
Harga jual yang sehat lahir dari tiga hal: modal per unit yang dihitung teliti, beban operasional yang ikut diperhitungkan, dan harga pasar yang jadi pembanding. Mulai dari hitungan, uji di lapangan, lalu revisi berdasarkan data penjualan. Kalau kamu berencana menambah stok atau modal untuk mengejar permintaan, cek dulu kelayakan usaha sebelum ajukan modal tambahan agar keputusanmu tidak cuma ikut semangat sesaat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa margin yang wajar untuk usaha kecil?
Umumnya 20 sampai 50 persen dari modal ditambah beban operasional, tergantung jenis produk. Barang yang cepat laku bisa pakai margin lebih kecil karena perputaran uangnya cepat, sedangkan produk yang jarang terjual butuh margin lebih besar untuk menutup risiko stok mengendap.
Apakah harga boleh sama dengan kompetitor?
Boleh, asal hitungan modalmu memang mendukung. Menyamakan harga tanpa tahu biaya sendiri berisiko membuat kamu jualan tanpa untung. Sebelum meniru harga kompetitor, pastikan modal per unit dan beban operasionalmu sudah dihitung.
Bagaimana kalau pembeli terus menawar?
Tetapkan batas bawah yang tidak boleh dilewati, yaitu harga BEP. Untuk menjaga hubungan, kamu bisa memberi potongan pada pembelian jumlah banyak atau bonus kecil, daripada memotong harga satuan terus-menerus. Kalau penawaran terjadi terus, tinjau lagi apakah harga awalmu memang terlalu tinggi.